Walaupun sudah lewat seminggu dan Rabu kemarin baru nonton Blur, tetap saja konser trio post-rock asal Islandia masih membekas. Gw pun juga masih tidak punya banyak kata-kata untuk diungkapkan, karena memang konser yang berlangsung di 10 Mei 2013 lalu di Istora Senayan terlalu Epic.
Jika postingan sebelumnya gw membahas, konser Vampire Weekend di Jakarta adalah yang terbaik, kali ini gw ralat, dan menaruh band yang gw kenal di masa kuliah ini menjadi nomer wahid. Tanpa banyak berkata-kata, Sigur Rós "menyiksa" kita dengan nada-nada surgawi, visual yang absurd dan lighting yang megah. Ribuan penonton yang memenuhi venue kala itu tersihir dan orgasme bersamaan!
Sempet rekam opening dan motret dengan kamera seadanya dari jauh. Check this out!
Judul tersebut terinspirasi dari kata-kata yang keluar dari Awan Garnida malam Senin kemarin (5/5) di Rolling Stone Cafe. Setelah cukup lama vakum dan ditinggal salah satu personil kunci mereka, Raymondo Gascaro, sekarang SORE tinggal berempat saja. Hal itu menjad keresahan para Kampiun karena takut band idolanya tidak akan berkarya lagi.
Namun, hal itu ditepis dengan kabar mereka sedang rekaman untuk album baru mereka. Akhirnya sebuah single terbaru dari terbaru SORE berjudul "Sssst..." dirilis lewat iTunes, Kampiun tahu bahwa mereka akan kembali bertemu di scene-scene musik. Berikutnya, slbum the best mereka yang berjudul SOREalist juga dirilis, yang bertepatan dengan Record Store Day.
Puncak dari kerinduan para Kampiun pecah di Rolling Stone Cafe kemarin. Minggu malam itu menjadi minggu malam termanis yang pernah gw rasakan. Minggu malam biasanya menjadi waktu yang dibenci karena, hari libur sebentar lagi berakhir. Namun, minggu malam kemarin menjadi waktu yang ditunggu-tunggu oleh gw dan mungkin seluruh Kampiun karena SORE akan kembali menyabdakan lantunan lirik sentimentil dan musik yang manis ke hadapan orang banyak setelah hibernasi.
Dengan berpakaian ala sunan, juragan minyak Arab dan petani Jerman, para personil SORE yang tersisa, Ade Paloh, Awan Garnida, Bemby Gusti dan Reza Dwi Putranto kembali ke atas panggung musik Indonesia. Malam itu mereka juga dibantu oleh beberapa additional player seperti Khrisna dari NAIF dan personil Polkawars dan Tiga Pagi. Di atas panggung, Ade dan Awan yang menjadi jubir sedikit curcol, mulai dari kelahiran anaknya hingga dibalik terciptanya lagu "Bantal Keras" yang sentimentil itu.
1000 orang berhasil memenuhi kafe yang juga menjadi headquarter dari majalah Rolling Stone itu. Walaupun panas dan padat, Kampiun rela melakukannya demi SORE.
Berikut sedikit foto yang gw hasilkan setelah berjuang melawan tinggi badan penonton lainnya.
Namanya mungkin terdengar terlalu mainstream. Apalagi band asal New York ini mulai terkenal bersamaan dengan lahirnya cerita romantis manusia dan vampir, Twilight. Tapi tenang, para personil band Vampire Weekend ini tidak bertaring dan bersinar ketika terkena cahaya matahari.
Bengkel Night Park, venue konser bersejarah yang sekarang berubah nama menjadi Fairground itu menjadi saksi gw menonton kedahsyatan musik Vampire Weekend yang unik itu. Disitulah gw semakin jatuh cinta dengan musik mereka yang merupakan perkawinan antara punk dan bunyi-bunyian asal Afrika.
Jika ditanya, apa konser terbaik yang pernah ditonton, mungkin saat Vampire Weekend-lah jawabannya. Bayangin aja, malam itu Ezra Koenig yang mengenakan kaos batik, Chris Thompson menggunakan lengan buntung, sedanglan Rostam Batmanglij (bukan orang Batak) dan Chris Baio tetap dengan kostum ala mahasiswa Ivy League, kemeja dan celanan khaki, memainkan musik mereka persis apa yang kita dengar di CD! Rapi! venue yang ukurannya kecil itu juga membuat penonton semakin intim dengan keempat personil band indie tersebut.
Selain musiknya yang fun, lirik menjadi keunggulan band ini. Mungkin itu mencerminkan jenjang pendidikan mereka. Hampir semua personil kuliah Di Columbia University, salah satu universitas terbaik di Amerika Serikat. Lo bayangin aja, ada lirik bunyinya: "The Argentines collapse in defeat The admiralty surveys, the remnants of the fleet", yang lo bakal dengeri di lagu Mansard Roof.
Nah, setelah dua tahun setelah mereka bermain kucing-kucingan dengan media tentang album ketiga mereka, akhirnya beberapa waktu mendatang, tepatnya 14 Mei 2013, akan hadir Modern Vampires of the City. Beberapa single dari album mereka ini sebenarnya sudah dibocorkan di akhir tahun 2012 lalu, mereka membawakannya di beberapa gigs.
Dua single dari album itu pun sudah dilepaskan ke pasaran iTunes, yaitu "Step", sebuah lagu bernada manis yang membuat lo melamum di dekat kaca sambil berkhayal kota-kota yang ada di dalam lirik tersebut. Selanjutnya adalah "Diane Young", lagu ini bertempo beat membuat kaki dan dan tangan ingin ikut berdansa.
Beberapa waktu lalu mereka menggelar sebuah konser di Roseland Ballroom, NY dalam rangka event Amex Unstaged. Beberapa musisi yang pernah juga ikutan adalah The Killers dan Usher.Yang menarik dalam gig ini adalah digandengnya sutradara terkenal. Kemarin, Steve Buscemi, aktor sekaligus sutradara yang pernah main di Armagedon dan The Island itu menjadi sutradara Vampire Weekend di Amex Unstaged. Menariknya lagi, Mr Buscemi ini ternyata masih saudara jauh basis mereka, Chris Baio. Tonton betapa awkwardnya mereka berdua bertemu pertama kali di sini.
Untuk mempromosikan konser tersebut, Steve dan personil Vampire Weekend berkeliling kota New York, membagikan flyer, mendatangi orang-orang hingga bertemu salah satu kandidat gubernur yang dijuluki Big Apple tersebut. Cek di sini untuk nonton ya.
Karena ada live streaming langsung dari sana. Jadi, di Senin pagi yang indah, gw udah siap buat streaming lewat handphone. Selama perjalanan ke kantor, gw rajin mengecek timeline mereka. Buat yang nggak sempet nonton, cek videonya di bawah:
Di awal-awal, Ezra sempet say Hi ke penonton New York dan yang membuat gw kaget adalah ketika mereka say Hi penonton Indonesia! Dari ratusan negara di dunia ini, cuma Indonesia dan Filipina yang disebut!
Selain membawakan lagu-lagu mereka dari album Contra dan Vampire Weekend, mereka juga menyelipkan beberapa lagu baru dari album yang akan mereka rilis nanti. Tapi tetap saja, beberapa lagu lama mereka seperti Mansard Roof ( intronya mirip dangdut), Cap Kod Kwassa Kwassa, Giving Up the Gun dan lainnya tetap ditunggu untuk dimainkan.
Oke segitu dulu ulasan singkat ogut tentang Vampire Weekend.
Semua orang pasti punya band, penyanyi atau lagu yang entah kenapa selalu ada hampir setiap momen penting. Gw punya. Band itu adalah My Chemical Romance. Band yang baru aja bubar itu menjadi saksi bisu (hayah) momen-momen penting dalam hidup gw.
What will it take to show you that it's not the life it seems?(I'm not okay)I've told you time and time again you sing the words but don't know what it means(I'm not okay)To be a joke and look, another line without a hookI held you close as we both shook for the last time take a good hard look!
(I'm Not Okay (I Promise) - My Chemical Romance)
Back in 2004, dimana gw masih duduk manis di bangku kelas 2 SMA. kata 'emo' mulai masuk ke kamus hidup. begitu pula band bernama My Chemical Romance (MCR) ini. Gw mulai bertanya-tanya dengan teman sekelas gw yg punya band lagi rajin banget mainin emo kaya The Used, Finch dan MCR.
"Jadi emo apa sih?", tanya gw ke temen gw.
"Mereka turunannya punk, tapi lebih selow", jawabnya percaya diri.
"oooo", gw ngangguk-ngangguk aja.
Karena MCR baru aja ngeluarin album keduanya Three Cheers for Sweet Revenge, bannernya banyak banget di website musik yang gw buka. Gw pikir ini Chemical Brothers, taunya beda hehehe..
So, dimulailah menggali lagu-lagu MCR. Seperti band emo kebanyakan, lirik-liriknya emang pas buat kebanyakan anak SMA yang lagi galau putus cinta, cinta bertepuk sebelah tangan atau punya family problem. Suara Gerard Way yang melengking kalo teriak, emang pas banget buat nyurain rasa sakit patah hati eaaaa.
Setelah single pertama I'm Not Okay ( I Promise) dari album kedua keluar, single kedua, Helena, makin membuat gw jatuh cinta dengan grup ini. Selain nada-nadanya yang rada spooky, video klip dan dandannya mereka cukup treatikal menurut gw. Yah you know lah, boys with wet black hair, little powder here and there and eyeliner cukup gemesin jaman-jaman abg dulu.
Lanjut ke tahun 2006, mereka rilis album baru yang semakin teatrikal, The Black Parade. Great album!
lagu Welcome to the Black Parade membuka babak baru MCR yang semakin tahu pasar maki merajai musik emo di tahun itu.
The boys and girls in the cliqueThe awful names that they stickYou're never gonna fit in much, kidBut if you're troubled and hurtWhat you got under your shirtWe'll make them pay for the things that they did
(Teenagers - My Chemical Romance)
Fast forward to 2007, i met a guy, because MCR. We both like MCR (anjir emo banget nggak sih? haha). Pokoknya MCR jadi tema di awal-awal kenalan dulu. Dari situ berlanjut ke hal yang lebih manis hingga 5 tahun setelahnya :)
Sama seperti MCR yang semakin dewasa di musiknya. Kita berdua pun sama. ketika di tahun 2010 MCR menawarkan musik baru bagi pendengarnya dalam album, Danger Days: The True Lives of The Fabulous Killjoys, kita udah move on dari musik emo dan nggak terlalu dengerin mereka lagi. hubungan berdua kita pun putus-nyambung, emang karena ada perbedaan mendasar yang nggak bisa dipungkiri.
It just ain't livingAnd I just hope you knowThat if you say(If you say)Goodbye today(Goodbye today)I'd ask you to be true('Cause I'd ask you to be true) 'Cause the hardest part of thisIs leaving you (Cancer - My Chemical Romance)
But, we kept moving on, cause we're in love. Begitu juga MCR yang mungkin fansnya banyak berkurang karena mereka sudah move on dari dunia lama ke dunia baru, mereka tetap bareng-bareng.
At the end of the worldOr the last thing I seeYou areNever coming homeNever coming homeCould I? Should I?And all the things that you never ever told meAnd all the smiles that are never ever... (The Ghost of You - My Chemical Romance)
And, here we are on March 2013. couple days after my birthday, we broke up. Again, me and him couldn't run away from our main problem. So, for the sake of our lives and happines, we're done.
it was hard until now.
MCR kayaknya juga memiliki hal yang sama dengan kita berdua. Selang 2 minggu, mereka mengumumkan pembubaran band.
Being in this band for the past 12 years has been a true blessing. We've gotten to go places we never knew we would. We've been able to see and experience things we never imagined possible. We've shared the stage with people we admire, people we look up to, and best of all, our friends. And now, like all great things, it has come time for it to end. Thanks for all of your support, and for being part of the adventure.
My Chemical Romance
Thank you MCR, for this past 12 years. Even though i never watch your live performance, but i will remember your great music. Yeah i agree, all great thing come to an end. You, me and him have to end it for a better future.
And without you is how I disappear, And live my life alone forever now. And without you is how I disappear, And live my life alone forever now.
(This is How I Disappear - My Chemical Romance)
It's been a great journey. See you guys and you on the other side.
“These songs span eight years, three relationships, living in two different places, drinking then not drinking...”-Benjamin Gibbard
Setelah berkelana keliling dunia bareng bandnya, Death Cab for Cutie, mencoba project membuat musik pop-tronic lewat pos surat dengan Jimmy Tamborello, menikahi hollywood sweetheart hingga akhirnya cerai, Ben Gibbard akhirnya mencoba mengumpulkan kembali puzzle-puzzle hidupnya di masa lampau dan lahirlah sebuah album solo, Former Lives.
Satu-satunya pria, yang Saya perbolehkan belah tengah
Yeah! My favorite kind of guy baru saja mengeluarkan album solonya, 12 oktober lalu. Berisi 12 lagu yang pasti membuat kalian ingin menjadi objek si lagu. Sama seperti lagu-lagu pada DCFC atau Postal Service, Ben masih menuangkan lirik-lirik cintanya tanpa harus terdengar cheesy atau lame.
Mungkin banyak yang nebak, msuik dan lirik Former Lives bakal mirip dengan apa yang udah dia lakukan pada album-album DCFC dan Postal Servie, but it doesn't. It's more personal, it's the other side of Benjamin Gibbard.
Beberapa musiknya terdengar syahdu, seperti lagu "Something's Rattling", "Lady Adelaide" dan "Lily". Ada juga, lagu yang menunjukkan kalau Mas Ben ini juga sering mengambil inspirasi dari kisah cinta orang lain, seperti yang ia lakukan di track "Bigger Than Love" yang diambil dari surat cinta F. Scott Fitzgerald dan istrinya Zelda.
Berikut album stream Formes Lives. Bisa tebak yang mana lagu buat Zooey? :P
Gw tipe orang yang judge the book from its cover atau dalam kasus ini judge the album from its cover. Salah satunya adalah ketika ke toko kaset. Banyak koleksi kaset dan CD gw adalah hasil dari moto tersebut. Cover asik atau judul lagu cukup catchy dan harga yang murah (hehe) pasti gw beli. Dan kebanyakan isinya juga seyahud si cover tersebut, jadi belum pernah nyesel tuh beli kaset akibat moto hidup tersebut.
Nah salah satu CD yang pernah gw adalah Quite Down sebuah album kamar dari Adhitia Sofyan, dengan cover minimalis dan rada kartun dan tentunya harga murah meriah yaitu 25ribu, gw langsung membawa tuh CD ke kasir. Padahal gw belum tahu tuh penyanyi siapa dan lagu2nya kaya apa.
Dan jreeeeeeeeeng..
keren bo! nuansa akustik nan galau yang sangat cocok untuk suasana gerimis menghiasi hampir seluruh lagu-lagu di album itu. Dan mulai dari situ gw mulai menyukai musik Adhitia Sofyan.
Saat itu gw belum tahu ternyata aslinya dia memberikan secara cuma-cuma lagunya di blognya alias gratis! Tapi pas tahu tentang itu, gw tidak merasa nyesel telah membelinya, toh lebih asik punya bentuk fisik dan membeli CDnya sama seperti memberikan apresiasi tinggi atas hasil karyanya. Harganya juga gak sampe lo musti nabung berbulan-bulan kok.
Beberap waktu kemudian, bedroom recordings vol. 2 alias album kedua yg berjudul Forget Your Plans keluar. Saat tahu Mas Adhit membuka pre order CD-nya saya langsung order, walaupun sebenarnya udah donwload lagunya, tapi kembali lagi memiliki fisiknya lebih oke.
Apalagi ketika tahu albumnya nggak seminimalis Quite Down, lebih keren! :)
Lagu-lagu pada album kedua terdengar lebih gloomy dari sebelumnya. Bandaged, Immortal Mellow cocok buat pemuda-pemudi yang galau akibat digantung statusnya, ditinggal kekasih dan cintanya yang tak terbalas hehe.. dengerin deh..
Nah! Setelah sekian lama hanya memberikan surprised song.. akhirnya 2 Oktober lalu, Mas Adhit memberikan kita lanjutan dari nada-nada merdu nan sendu dari kamarnya lewat How To Stop Time, album ketiganya. Dan sambil menulis postingan ini, gw memutar lagu-lagu terbarunya.
Tetap dengan alunan gitar dan liriknya yang sendu dan seringkali manis. Tapi untuk kali ini gw nggak suka sama covernya heheh.. maaf Mas Adhit :P
Post berikut emang rada basi karena udah terjadi 7 Maret lalu, tapi karena ini trip pertama keluar negri sambil menonton band impian yaitu si Death Cab for Cutie di Singapore, jadi perlulah dibicarakan di sini hehe..
Jadi setelah berakhirnya kegalauan gw, pagi hari pada tanggal 7 Maret gw pergi ke Singapore dengan si Uthie dan sempat satu pesawat hingga satu MRT dengan Arian 13 yang ternyata menonton Kvelertak (gak penting).
Oke pertama kali menginjakkan kaki di negri singa itu, rada norak karena beda sama Jakarta (yaiyalah) semua tertata rapi dan nyaman. Pas naik MRT rada gaptek juga karena bingung rutenya banyak banget, tapi dengan berbekal ilmu Dora yang suka nanya dan bawa peta akhirnya kita sampai di hostel kita Berry Nice yang terletak di Smith Street atasnya toko Dimsum di Chinatown!
reccomended place to stay!
Di sana kita disambut dengan Saya (nama penjaganya) yang baik dan ramah. Si Berry Nice ini sodaraan sama Berry Good Hostel yang lebih deket dengan MRT Chinatown dan juga Berry Best Hostel yang masih di daerah Chinatown tapi rada jauh sama MRT which is di jalan Upper Cross Street. Kalo mw reservasi tinggal klik ini.
Nah karena kita musti nunggu jam check in, kita jalan2 dulu disekitar Chinatown. Akhirnya ya gw bisa merasakan roti kaya dengan harga cukup ya mura tapi mahal 1.6 dollar singapore.
Setelah itu kita ke Tin Tin Shop yang berada dekat MRT Chinatown. Rada mahal sih barang-barangnya tapi buat yang suka banget ama tuh detektif musti banget sih beli, ya at least kartu postnya-lah.
Abis check in, kita sempetin jalan2 ke orchard road. Sempat tergoda dengan barang2 branded tapi tujuan kita adalah es krim 1 dollar!.. Nah muter2 gak jelas kita balik lagi ke hostel buat nyiapin energi sebelum umrah nonton mas Ben di Fort Canning.
Sempat tidur dan kerja bentar (yes kerja, kerjaan kantor :|) jam 6 sore kita berangkat dari hostel. Sempat nyasar pas ke Fort Canning dan nunggu temennya Uthie, akhirnya kita sampe di venue. Sampai sana antrian masuknya udah panjaaaaaang bgt karena security checknya cukup ribet. Karena waktu yang cukup molor dan Death Cab udah gak sabar buat menghibur kita semua, no more security check! wohoooo.. kamera lumix gw alhamdulilah ga disita!
Pas masuk liat booth merchandise, karena DCFC udah mulai mainin intro A Lack of Color.. jadilah tanpa banyak cing cong gw ama uthie beli kaos yg cukup mahal ( 50 $ sing bok!)
Ternyata venuenya kurang asik.. bukan tempat Laneway yang tanahnya turun ke bawah, tapi yang tanahnya rata :|
Jadilah gw yg kecil ini rada susah liat ke panggung. Tapi setelah nyelip-nyelip, akhirnya kita sampe ke depan agak di samping kanan stage. Lumayanlah..
Seperti yang sudah diprediksi.. setlist mereka yang di Singapur mirip2 sama yg di Australi..
Karena mereka banyak bawaiin lagu2 lama, sing a long tak dapat dibendung lagi. Hampir ditiap lagu, semua penonton nyanyi bareng sama Ben Gibbard. Apalagi pas lagu I Will Follow You Into The Dark, Ben and his accoustic guitarnya sudah cukup membuai kita.. *jadi inget yang di jakarta* hahaha
Setelah lagu-lagu galau, suasana ceria kembali lewat lagu Soul Meets Body hingga akhir Marching Bands of Manhattan. Dan setelah itu mereka hilang dari stage..
We were ready for the encore.. but not for a goodbye..
Soundtrack Twilight, Meet Me on the Equinox membuka nomer encore malam itu.. dan diakhir lagu paling galau yang pernah ada..
Translaticsm.. pasangan yang nonton di depan gw.. mulai pegangan tangan dan menyanyi bersama.. *makin inget yang di jakarta*..
Thank you words berkumandang dari para personil DCFC, tandanya show berakhir.. :(
Walaupun rasanya cepet banget, but it was great to watch them LIVE!
Semoga mereka bisa main di Indonesia dan bilang "Thank you jekardaaaah, it was the best crowd ever!"
Esok harinya.. si Saya nanya nonton konser apa kemarin? pas bilang kita bilang Death Cab, doi kaget karena dia juga suka DCFC tapi gak tau kalo di mau konser di SG.. Poor her :(
Kemudian hari terakhir di SG dihabiskan dengan jalan2 dari Orchard-Bugis-Mustafa dan cabs ke Changi! Walaupun diakhir perjalanan kita nyasar dan hampir ketinggalan pesawat! Untungnya Air Asianya delay! Tenryata pesawat delay terkadang membawa keberuntungan bagi kita semua! haha...