Selasa, 12 November 2013

Belajar Sejarah dari Alt-J

Apa sih sejarah?

Menurut KBBI, sejarah adalah kejadian dan peristiwa yg benar-benar terjadi pd masa lampau.


Darimana sih kita belajar sejarah?


Biasanya sih di sekolah, dari buku pelajaran, guru, televisi, radio, orang tua dan lain-lain.


Mungkin itu dulu, sekarang lo bisa belajar sejarah dari mana aja. Bungkus gorengan, internet bahkan obrolan sama supir taksi. Satu lagi cara lo bisa belajar sejarah adalah lewat lagu.


Pengalaman ini gw dapetin ketika gw tengah asik melahap album Awesome Wave dari kuartet indie rock yang cukup eksperimental asal Leeds Inggris, Alt-J.



Sebenarnya gw agak bingung menggambarkan musik dari band yang digawangi oleh Gwil Sainsbury (guitar/bass), Joe Newman (guitar/vocals), Gus Unger-Hamilton (keyboards) and Thom Green (drums) cukup aneh, gelap, drum tanpa cymbal, main gitar pake solasi dan suara khas sengau dari sang vokalis.

Vokal si Joe emang unik banget fasleto dan pelafalannya yang british banget bikin gw ngerti apa yang doi nyanyiin. Entah karena listening gw kurang oke, apa emang begitu ciri khasnya. Tapi itulah yang bikin gw penasaran sama lirik-lirik lagu Alt-J. Gw googlelah lirik "Breezleblocks", "Fitzpleasure", "Matilda" dan akhirnya sampai di lagu berjudul "Taro".



dan jreeeeng.. berikut lirik dari Taro

Indochina, Capa jumps Jeep, two feet creep up the road

To photo, to record meat lumps and war,


They advance as does his chance – very yellow white flash.


A violent wrench grips mass, rips light, tears limbs like rags,


Burst so high finally Capa lands,


Mine is a watery pit. Painless with immense distance


From medic from colleague, friend, enemy, foe, him five yards from his leg,


From you Taro.



Do not spray into eyes – I have sprayed you into my eyes.


3:10 pm, Capa pends death, quivers, last rattles, last chokes


All colours and cares glaze to grey, shrivelled and stricken to dots,


Left hand grasps what the body grasps not – le photographe est mort.


3.1415, alive no longer my amour, faded for home May of ‘54


Doors open like arms my love, Painless with a great closeness


To Capa, to Capa Capa dark after nothing, re-united with his leg and with you, Taro.


Do not spray into eyes – I have sprayed you into my eyes.


Hey Taro


VOILA! GW BARU SAJA BELAJAR SEJARAH DUNIA!




Taro ini ternyata adalah lagu tentang kisah pasangan war photojournalist hebat yang mati saat tugas, Gerda Taro dan Robert Capa. Alt-J lewat suara falseto Joe, dengan indahnya menggambarkan bagaimana detik-detik terakhir keduanya meninggal.

Gerda Taro, perempuan cantik asal Swiss ini meninggal saat meliput tentara Republican di The Battle of Brunete, perang sipil di Spanyol. Tubuhnya ditabrak oleh tank tentara Spanyol pada 26 Juli 2937. Capa sangat tepukul atas kematian tunangannya tersebut dan sempat ingin berhenti dari pekerjaannya sebagai fotografer perang.

Namun beberapa tahun kemudian, Capa ditugaskan oleh majalah Life untuk meliput perang Indo Cina di Vietnam. Kematian menjemputnya saat ia menginjak ranjau darat. Saat ditemukan oleh rekan setimnya, John Mecklin dan Jim Lucas, Capa masih hidup, tetapi kaki kirinya hancur dan dadanya terkena luka cukup parah. Sayangnya, dia meninggal saat sampai di rumah sakit. Capa meninggal pada 25 Mei 1954.

Tapi akhirnya kedua pasangan itu bersatu kembali. 

To Capa, to Capa Capa dark after nothing, re-united with his leg and with you, Taro.

Pelarajan sejarahnya yang romantis bukan?

Kamis, 12 September 2013

Review: AM - Arctic Monkeys

You just want to play it over and over again, especially the last track..




Ketika gw mendengar Arctic Monkeys hijrah ke gurun LA demi merampungkan album ke-5 mereka dan memasukkan unsur hip hop dan rnb ke dalamnya, membuat gw underestimate dan merasa album ini akan jelek. Maklum, album sebelumnya, Suck It and See, JUARA. Apalagi ketika mereka rilis "Do I Wanna Know", rasanya mereka berubah, bukan seperti Arctic yang kukenal dulu #eaaa. Kemudian "Why'd You Only Call Me When You're High?" keluar, rasanya ingin bilang ke Alex Turner dan Matt Helders, "mana petikan kasar dan dentuman drum cepat ala "Brianstorm"?".



Akhirnya AM dirilis. Siang tadi gw baru bener-bener dengerin dari awal sampe akhir, hasilnya membuat gw sumringah sampe sekarang :)

Hip hop dan rnb terdengar diramu sangat baik oleh Arctic Monkeys yang pengerjaan albumnya dibantu kembali oleh Josh Homme. Malahan gw mendengar tune ala Eminem di dalamnya, kaya di lagu "Why'd You Only Call Me When You're High?", "Knee Socks" dan "One for the Road" dan Alex juga nyanyi kaya doi!



Tapi tenang, masih ada rock garage tersisa di album ini, salah satunya di lagu "Arabella", "I Want It All" dan "R U Mine". 


Lalu, ditengah-tengah ada "No. 1 Party Anthem". Judulnya terdengar seperti lagu hip hop murahan, tapi pas lo denger ini adalah salah satu lagu ballad ala "Cornerstone" dan "Piledriver Waltz". Setelah itu ada "Mad Sounds", dimana ada bagian "ula la la la la" ala Base Jam tanpa kecrekan. 

Dan tibalah gw pada sebuah track terakhir pada album AM ini. Track yang membuat gw melayang kaya orang baru jatuh cinta. Lo tau kan rasanya? Idup lo cuma pengen ketemu dia dan dengerin dia ngomong terus-terusan karena suaranya merdu di telinga. Lo juga nggak mau ngapa-ngapain, kerja gak konsen, makan pun males. Rasanya lo udah penuh hanya dengan dia #tsah.

Track ke-12  yang membuat lupa daratan menutup album kelima dari band asal Sheffield ini berjudul "I Wanna Be Yours". Alex menggubah puisi dari penyair inggris pujaannya, John Cooper Clarke (aslinya cukup cheesy kalau dinyanyiin) menjadi sebuah nomer rnb ballad paling manis dan gelap yang pernah gw denger. Emang bajingan si Alex Turner ini!



I wanna be your vacuum cleaner
Breathing in your dust
I wanna be your Ford Cortina
I will never rust
If you like your coffee hot
Let me be your coffee pot
You call the shots babe
I just wanna be yours



I wanna be fckn yours, Alex Turner! Oke terlalu lebay. 

Tapi yang pasti, album ini layak banget untuk beli! Walaupun mereka menggeser musik mereka sedikit, it's for the sake of creativity and good music! 12 lagu dalam 42 menit yang cukup membuat emosi lo naik turun.

Sekian dan terima asik.






Minggu, 08 September 2013

Obituary: The Quiet Man

Tanggal 9 September 1999, siang itu gw yang masih SD menjadi salah satu peserta upacara Hari Olahraga Nasional. Bersama teman-teman satu kelas, gw menuju stadion satu-satunya di daerah rumah gw yang jaraknya kurang lebih 20 menit dari sekolah dengan berjalan kaki.

Hari itu excited banget, karena akhirnya gw bisa jalan-jalan (literally jalan) ke luar sekolah dan bakal bertemu banyak anak SD lainnya dan nggak belajar. Oh iya, satu lagi yang membuat hari itu semakin seru, yaitu tentang gosip bakal kiamat. 9/9/99, angka kembar yang membuat media, "orang pintar" dan orang awam menggembargemborkan angka "keramat" itu. Masih inget dipikiran gw, siang itu gw memandang langit yang tampak mendung dan sambil berkata di dalam hati "wah jangan-jangan bentar lagi kiamat". 

Besok, 9 September 2013, gw akan pergi lagi ke stadion itu, tepatnya di sebelah lapangan besar gersang dan tak terawat itu. Bukan untuk merayakan Hari Olahraga, tapi untuk mengunjungi seseorang yang akan berulang tahun di tanggal tersebut, i called him The Quiet Man.

The Quiet Man


Tapi, kiamat sempat terjadi buat gw, tepatnya 14 tahun sesudahnya. The Quiet Man left me, my mom and my sister, for good. Dia pergi tanpa meninggalkan pesan (mungkin karena kita kurang peka dalam membaca tanda). Atau mungkin karena dia nggak mau kita kepikiran, atau memang begitulah dia adanya, pendiam. 

Selama hidupnya, dia jarang bicara panjang lebar layaknya politisi atau pendongeng anak-anak. Tertawa pun jarang, hingga hari-hari terakhirnya gw pun masih sering takjub ketika dia tertawa kecil, seringnya karena nonton komedi atau sinteron Tukang Bubur Naik Haji. Dia lebih suka duduk diam, sambil menyalakan rokok kretek Dji Sam Su dan segelas kopi Nescafe, 2 sahabat karibnya. Dia lebih suka memandangi gw, ade gw dan nyokap bercanda dengan sodara-sodara gw yang lagi main ke rumah. Melihat tante gw dan nyokap yang saling bertukar resep makanan, atau melihat ade gw yang ngobrol dengan para sepupu. Dia hanya sesekali menyapa dan bertanya seperti "udah makan belom?" "lagi sibuk apa?". Setelah itu dia kembali lagi merokok atau tidur di kamar.

Di luar pun juga akan lebih senang diam, mendengar teman-temannya bicara sambil sedikit nyeletuk dan menimpali. Tapi, balik lagi, dia akan lebih banyak diam sambil meresapi sisa rokok kreteknya itu. 

Entah apa yang dia pikirkan. Kerjaan? Keluarga? Politik? Mungkin hal itu nggak akan pernah terjawab sampai kapan pun.

Dibalik diamnya, entah mengapa dia memiliki banyak teman. Setiap gw ikut dia pergi ke tempat kerja atau dinesnya, orang-orang di hotel tempat menginap misalnya, mereka kaya udah kenal lama sama dia dan nganggep keluarga. 

Diamnya dia juga berarti cuek. Contohnya yang paling gw kesel adalah, cuek sama kebersihan. Dia seneng banget buang abu rokok sama puntungnya sembarangan. Gw bakal ngamuk-ngamuk setelah itu.

Tapi, dia juga rajin. Salah satunya mencuci baju. Dulu, hampir tiap malam dia  ke atas untuk nyuci baju. Sambil menunggu mesin cuci menggilas pakaian, dia akan duduk diam, lagi-lagi sambil ditemani rokok. Dia juga rajin beli deterjen. Pokoknya setiap belanja bulanan, dia selalu memasukka rinso ke dalam troli. Sampai sekarang, rinso yang dia beli belum juga abis. Dia juga penggosok baju yang rapi, nyokap pun kalah rapi sama dia. Dia juga jago bikin nasi goreng cabe rawit dan tempe goreng! Enak!

Mungkin itu semua dia dapetin karena dia anak rantau. Ketika kakak-kakaknya lebih memilih menjadi guru mengikuti bapaknya, dia pergi ke Jakarta mengadu nasib. Ilmu masak seadanya dan mencuci mungkin ia dapat dari hidup sendiri dan terpisah dari mbah gw. 

Oh ya, ada satu cerita yang sering gw dengar tentang episode merantau ini. Dia nggak bakal pulang sebelum bisa beli jeans!. Sekarang, koleksi jeansnya menumpuk di lemari.

Silent is golden, begitu kata pepatah. Mungkin itu juga yang dipegan sama dia. Dia lebih baik diam, tapi menghasilkan. Dalam diamnya dia bekerja banting tulang demi gw, nyokap dan ade gw. Dalam diamnya dia menyusun rencana hidup, rencana renovasi rumah, rencana pesen tas buat diklat kantor dan rencana beli rokok samsu dimana nanti. 



I wish i could say Happy 53rd birthday to you, Pah!

We miss you a lot, especially her.





Tulisan ini ditulis pada 8 September 2013 dengan ditemani nada-nada berisik nan indah dari Mogwai.



Kamis, 15 Agustus 2013

HAIM, The Coolest Sisters Ever!

Forget about Zooey Deschanel, these three jewish girls will rock your world!




Kalau diliat dari tampilannya, HAIM ini lebih mirip cewek-cewek NYLON atau yang biasa lo liat di majalah cewek bagian street styler. Rambut panjang sebahu, washed jeans, leather jacket, rad sunnies and cute dress selalu jadi pilihan outfit mereka. Tapi tenang, Este, Danielle dan Alana yang merupakan adik-kakak adalah anak band!


Coba deh dengerin lagu2 mereka, kaya:









Terinspirasi dari musik-musik oldskul macem Fleetwood Mac dan band 90-an, mereka mendefinisika aliran mereka sebagai "nu-folk-meets-nineties-R&B. I don't know nothing about playing music, tapi dikuping gw, permainan musik sangat oke untuk kumpulan cewek-cewek 20 tahunan.





Well, ternyata darah musik mereka berasal dari orang tuanya yang udah cekokin mereka dengan musik 70-an. Dari kecil,  bokap nyokap mereka udah ngajak mereka buat bikin band keluarga bernama Rockinhaim




Para personilnya pun juga punya background music CV yang yahud, kaya Este, si kakak tertua ini ternyata lulusan Ethnomusicology UCLA, lho! 

Terus si kakak keduanya si Danielle udah pernah tur barengan Jenny Lewis yang sekarang sibuk bareng The Postal Service reunion *tapi baru aja bubar lagi*. 

Nah, semua personil nyumbang suara di lagu-lagu mereka. But, Danielle is the singer. Cara nyanyi cukup aneh di telinga gw, nafasnya pendek, tapi unik. Oranganya cenderung diem tapi gayanga cool.
It's Danielle!



I like Alana more, mungkin karena dia adik paling kecil, jadi paling pecicilan dan byk omong pas konser, she plays guitar and keyboard too!  Jenis suaranya juga lucu!


Alana!



Este is the bassist, cewek yang gayanya paling feminin ini cukup komunikatif pas manggung.


Say hi to Este!




As a sisters, mereka cukup kompak. Mulai dari gaya sehari-hari sampe performance di panggung. 

Penasaran sama livenya?

Nih full perfomance mereka pas di Glastonbury kemarin!










Image: Google


Jumat, 17 Mei 2013

Sigur Rós Live in Jakarta: Orgasmik Musik

Walaupun sudah lewat seminggu dan Rabu kemarin baru nonton Blur, tetap saja konser trio post-rock asal Islandia masih membekas. Gw pun juga masih tidak punya banyak kata-kata untuk diungkapkan, karena memang konser yang berlangsung di 10 Mei 2013 lalu di Istora Senayan terlalu Epic.

Jika postingan sebelumnya gw membahas, konser Vampire Weekend di Jakarta adalah yang terbaik, kali ini gw ralat, dan menaruh band yang gw kenal di masa kuliah ini menjadi nomer wahid. Tanpa banyak berkata-kata, Sigur Rós  "menyiksa" kita dengan nada-nada surgawi, visual yang absurd dan lighting yang megah. Ribuan penonton yang memenuhi venue kala itu tersihir dan orgasme bersamaan!

Sempet rekam opening dan motret dengan kamera seadanya dari jauh. Check this out!


bocah hipster







Senin, 06 Mei 2013

SORE yang Tersisa

Judul tersebut terinspirasi dari kata-kata yang keluar dari Awan Garnida malam Senin kemarin (5/5) di Rolling Stone Cafe. Setelah cukup lama vakum dan ditinggal salah satu personil kunci mereka, Raymondo Gascaro, sekarang SORE tinggal berempat saja. Hal itu menjad  keresahan  para Kampiun karena takut band idolanya tidak akan berkarya lagi.

Namun, hal itu ditepis dengan kabar mereka sedang rekaman untuk album baru mereka. Akhirnya sebuah single terbaru dari terbaru SORE berjudul "Sssst..."  dirilis lewat iTunes, Kampiun tahu bahwa mereka akan kembali bertemu di scene-scene musik. Berikutnya, slbum the best mereka yang berjudul SOREalist juga dirilis, yang bertepatan dengan Record Store Day.

Puncak dari kerinduan para Kampiun pecah di Rolling Stone Cafe kemarin. Minggu malam itu menjadi minggu malam termanis yang pernah gw rasakan. Minggu malam biasanya menjadi waktu yang dibenci karena, hari libur sebentar lagi berakhir. Namun, minggu malam kemarin menjadi waktu yang ditunggu-tunggu oleh gw dan mungkin seluruh Kampiun karena SORE akan kembali menyabdakan lantunan lirik sentimentil dan musik yang manis ke hadapan orang banyak setelah hibernasi.

Dengan berpakaian ala sunan, juragan minyak Arab dan petani Jerman, para personil SORE yang tersisa, Ade Paloh, Awan Garnida, Bemby Gusti dan Reza Dwi Putranto kembali ke atas panggung musik Indonesia. Malam itu mereka juga dibantu oleh beberapa additional player seperti Khrisna dari NAIF dan personil Polkawars dan Tiga Pagi. Di atas panggung, Ade dan Awan yang menjadi jubir sedikit curcol, mulai dari kelahiran anaknya hingga dibalik terciptanya lagu "Bantal Keras" yang sentimentil itu.

1000 orang berhasil memenuhi kafe yang juga menjadi headquarter dari majalah Rolling Stone itu. Walaupun panas dan padat, Kampiun rela melakukannya demi SORE.

Berikut sedikit foto yang gw hasilkan setelah berjuang melawan tinggi badan penonton lainnya.












Jumat, 03 Mei 2013

Vampire Weekend: Mahluk Favorit Para Vampire Haters

Namanya mungkin terdengar terlalu mainstream. Apalagi band asal New York ini mulai terkenal bersamaan dengan lahirnya cerita romantis manusia dan vampir, Twilight. Tapi tenang, para personil band Vampire Weekend ini tidak bertaring dan bersinar ketika terkena cahaya matahari.



Bengkel Night Park, venue konser bersejarah yang sekarang berubah nama menjadi Fairground itu menjadi saksi gw menonton kedahsyatan musik Vampire Weekend yang unik itu. Disitulah gw semakin jatuh cinta dengan musik mereka yang merupakan perkawinan antara punk dan bunyi-bunyian asal Afrika.

Jika ditanya, apa konser terbaik yang pernah ditonton, mungkin saat Vampire Weekend-lah jawabannya. Bayangin aja, malam itu Ezra Koenig yang mengenakan kaos batik, Chris Thompson menggunakan lengan buntung, sedanglan Rostam Batmanglij (bukan orang Batak) dan Chris Baio tetap dengan kostum ala mahasiswa Ivy League, kemeja dan celanan khaki, memainkan musik mereka persis apa yang kita dengar di CD! Rapi! venue yang ukurannya kecil itu juga membuat penonton semakin intim dengan keempat personil band indie tersebut.

Selain musiknya yang fun, lirik menjadi keunggulan band ini. Mungkin itu mencerminkan jenjang pendidikan mereka. Hampir semua personil kuliah Di Columbia University, salah satu universitas terbaik di Amerika Serikat. Lo bayangin aja, ada lirik bunyinya:  "The Argentines collapse in defeat
The admiralty surveys, the remnants of the fleet", yang lo bakal dengeri di lagu Mansard Roof.

Nah, setelah dua tahun setelah mereka bermain kucing-kucingan dengan media tentang album ketiga mereka, akhirnya beberapa waktu mendatang, tepatnya 14 Mei 2013, akan hadir Modern Vampires of the City. Beberapa single dari album mereka ini sebenarnya sudah dibocorkan di akhir tahun 2012 lalu, mereka membawakannya di beberapa gigs.

Dua single dari album itu pun sudah dilepaskan ke pasaran iTunes, yaitu "Step", sebuah lagu bernada manis yang membuat lo melamum di dekat kaca sambil berkhayal kota-kota yang ada di dalam lirik tersebut. Selanjutnya adalah "Diane Young", lagu ini bertempo beat membuat kaki dan dan tangan ingin ikut berdansa.


Beberapa waktu lalu mereka menggelar sebuah konser di Roseland Ballroom, NY dalam rangka event Amex Unstaged. Beberapa musisi yang pernah juga ikutan adalah The Killers dan Usher.Yang menarik dalam gig ini adalah digandengnya sutradara terkenal. Kemarin, Steve Buscemi, aktor sekaligus sutradara yang pernah main di Armagedon dan The Island itu menjadi sutradara Vampire Weekend di Amex Unstaged. Menariknya lagi, Mr Buscemi ini ternyata masih saudara jauh basis mereka, Chris Baio. Tonton betapa awkwardnya mereka berdua bertemu pertama kali di sini.

Untuk mempromosikan konser tersebut, Steve dan personil Vampire Weekend berkeliling kota New York, membagikan flyer, mendatangi orang-orang hingga bertemu salah satu kandidat gubernur yang dijuluki Big Apple tersebut. Cek di sini untuk nonton ya.

Karena ada live streaming langsung dari sana. Jadi, di Senin pagi yang indah, gw udah siap buat streaming lewat handphone. Selama perjalanan ke kantor, gw rajin mengecek timeline mereka. Buat yang nggak sempet nonton, cek videonya di bawah:


Di awal-awal, Ezra sempet say Hi ke penonton New York dan yang membuat gw kaget adalah ketika mereka say Hi penonton Indonesia! Dari ratusan negara di dunia ini, cuma Indonesia dan Filipina yang disebut!
Selain membawakan lagu-lagu mereka dari album Contra dan Vampire Weekend, mereka juga menyelipkan beberapa lagu baru dari album yang akan mereka rilis nanti. Tapi tetap saja, beberapa lagu lama mereka seperti Mansard Roof ( intronya mirip dangdut), Cap Kod Kwassa Kwassa, Giving Up the Gun dan lainnya tetap ditunggu untuk dimainkan.

Oke segitu dulu ulasan singkat ogut tentang Vampire Weekend.

Minggu, 24 Maret 2013

R.I.P. MCR, R.I.P. US

Semua orang pasti punya band, penyanyi atau lagu yang entah kenapa selalu ada hampir setiap momen penting. Gw punya. Band itu adalah My Chemical Romance. Band yang baru aja bubar itu menjadi saksi bisu (hayah) momen-momen penting dalam hidup gw.


What will it take to show you that it's not the life it seems?(I'm not okay)I've told you time and time again you sing the words but don't know what it means(I'm not okay)To be a joke and look, another line without a hookI held you close as we both shook for the last time take a good hard look!
(I'm Not Okay (I Promise) - My Chemical Romance) 


Back in 2004, dimana gw masih duduk manis di bangku kelas 2 SMA. kata 'emo' mulai masuk ke kamus hidup. begitu pula band bernama My Chemical Romance (MCR) ini. Gw mulai bertanya-tanya dengan teman sekelas gw yg punya band lagi rajin banget mainin emo kaya The Used, Finch dan MCR.

"Jadi emo apa sih?", tanya gw ke temen gw.
"Mereka turunannya punk, tapi lebih selow", jawabnya percaya diri.
"oooo", gw ngangguk-ngangguk aja.

Karena MCR baru aja ngeluarin album keduanya Three Cheers for Sweet Revenge, bannernya banyak banget di website musik yang gw buka. Gw pikir ini Chemical Brothers, taunya beda hehehe..

So, dimulailah menggali lagu-lagu MCR. Seperti band emo kebanyakan, lirik-liriknya emang pas buat kebanyakan anak SMA yang lagi galau putus cinta, cinta bertepuk sebelah tangan atau punya family problem. Suara Gerard Way yang melengking kalo teriak, emang pas banget buat nyurain rasa sakit patah hati eaaaa.

Setelah single pertama I'm Not Okay ( I Promise) dari album kedua keluar, single kedua, Helena, makin membuat gw jatuh cinta dengan grup ini. Selain nada-nadanya yang rada spooky, video klip dan dandannya mereka cukup treatikal menurut gw. Yah you know lah, boys with wet black hair, little powder here and there and eyeliner cukup gemesin jaman-jaman abg dulu.

Lanjut ke tahun 2006, mereka rilis album baru yang semakin teatrikal, The Black Parade. Great album!
lagu Welcome to the Black Parade membuka babak baru MCR yang semakin tahu pasar maki merajai musik emo di tahun itu.


The boys and girls in the cliqueThe awful names that they stickYou're never gonna fit in much, kidBut if you're troubled and hurtWhat you got under your shirtWe'll make them pay for the things that they did
(Teenagers - My Chemical Romance) 



Fast forward to 2007, i met a guy, because MCR. We both like MCR (anjir emo banget nggak sih? haha). Pokoknya MCR jadi tema di awal-awal kenalan dulu. Dari situ berlanjut ke hal yang lebih manis hingga 5 tahun setelahnya :)

Sama seperti MCR yang semakin dewasa di musiknya. Kita berdua pun sama. ketika di tahun 2010 MCR menawarkan musik baru bagi pendengarnya dalam album, Danger Days: The True Lives of The Fabulous Killjoys, kita udah move on dari musik emo dan nggak terlalu dengerin mereka lagi. hubungan berdua kita pun putus-nyambung, emang karena ada perbedaan mendasar yang nggak bisa dipungkiri.

It just ain't livingAnd I just hope you knowThat if you say(If you say)Goodbye today(Goodbye today)I'd ask you to be true('Cause I'd ask you to be true)
'Cause the hardest part of thisIs leaving you
(Cancer - My Chemical Romance)





But, we kept moving on, cause we're in love. Begitu juga MCR yang mungkin fansnya banyak berkurang karena mereka sudah move on dari dunia lama ke dunia baru, mereka tetap bareng-bareng.


At the end of the worldOr the last thing I seeYou areNever coming homeNever coming homeCould I? Should I?And all the things that you never ever told meAnd all the smiles that are never ever...
(The Ghost of You - My Chemical Romance)


And, here we are on March 2013. couple days after my birthday, we broke up. Again, me and him couldn't run away from our main problem. So, for the sake of our lives and happines, we're done.

it was hard until now.

MCR kayaknya juga memiliki hal yang sama dengan kita berdua. Selang 2 minggu, mereka mengumumkan pembubaran band.


Being in this band for the past 12 years has been a true blessing. We've gotten to go places we never knew we would. We've been able to see and experience things we never imagined possible. We've shared the stage with people we admire, people we look up to, and best of all, our friends. And now, like all great things, it has come time for it to end. Thanks for all of your support, and for being part of the adventure.
My Chemical Romance


Thank you MCR, for this past 12 years. Even though i never watch your live performance, but i will remember your great music. Yeah i agree, all great thing come to an end. You, me and him have to end it for a better future.


And without you is how I disappear,
And live my life alone forever now.
And without you is how I disappear,
And live my life alone forever now.
(This is How I Disappear - My Chemical Romance)


It's been a great journey. See you guys and you on the other side.








Jumat, 16 November 2012

Fomer Lives, Kumpulan Cerita Lama Ben Gibbard

These songs span eight years, three relationships, living in two different places, drinking then not drinking...”-Benjamin Gibbard
 

Setelah berkelana keliling dunia bareng bandnya, Death Cab for Cutie, mencoba project membuat musik pop-tronic lewat pos surat dengan Jimmy Tamborello, menikahi hollywood sweetheart hingga akhirnya cerai, Ben Gibbard akhirnya mencoba mengumpulkan kembali puzzle-puzzle hidupnya di masa lampau dan lahirlah sebuah album solo, Former Lives.

Satu-satunya pria, yang Saya perbolehkan belah tengah


Yeah! My favorite kind of guy baru saja mengeluarkan album solonya, 12 oktober lalu. Berisi 12 lagu yang pasti membuat kalian ingin menjadi objek si lagu. Sama seperti lagu-lagu pada DCFC atau Postal Service, Ben masih menuangkan lirik-lirik cintanya tanpa harus terdengar cheesy atau lame.

Mungkin banyak yang nebak, msuik dan lirik Former Lives bakal mirip dengan apa yang udah dia lakukan pada album-album DCFC dan Postal Servie, but it doesn't. It's more personal, it's the other side of Benjamin Gibbard.




Beberapa musiknya terdengar syahdu, seperti lagu "Something's Rattling", "Lady Adelaide" dan "Lily". Ada juga, lagu yang menunjukkan kalau Mas Ben ini juga sering mengambil inspirasi dari kisah cinta orang lain, seperti yang ia lakukan di track "Bigger Than Love" yang diambil dari surat cinta F. Scott Fitzgerald dan istrinya Zelda.

Berikut album stream Formes Lives. Bisa tebak yang mana lagu buat Zooey? :P






Selasa, 09 Oktober 2012

Nada-Nada Sendu dari Kamar

Gw tipe orang yang judge the book from its cover atau dalam kasus ini judge the album from its cover. Salah satunya adalah ketika ke toko kaset. Banyak koleksi kaset dan CD gw adalah hasil dari moto tersebut. Cover asik atau judul lagu cukup catchy dan harga yang murah (hehe) pasti gw beli. Dan kebanyakan isinya juga seyahud si cover tersebut, jadi belum pernah nyesel tuh beli kaset akibat moto hidup tersebut.

Nah salah satu CD yang pernah gw adalah Quite Down sebuah album kamar dari Adhitia Sofyan, dengan cover minimalis dan rada kartun dan tentunya harga murah meriah yaitu 25ribu, gw langsung membawa tuh CD ke kasir. Padahal gw belum tahu tuh penyanyi siapa dan lagu2nya kaya apa.

Dan jreeeeeeeeeng..
keren bo! nuansa akustik nan galau yang sangat cocok untuk suasana gerimis menghiasi hampir seluruh lagu-lagu di album itu. Dan mulai dari situ gw mulai menyukai musik Adhitia Sofyan.
Saat itu gw belum tahu ternyata aslinya dia memberikan secara cuma-cuma lagunya di blognya alias gratis! Tapi pas tahu tentang itu, gw tidak merasa nyesel telah membelinya, toh lebih asik punya bentuk fisik dan membeli CDnya sama seperti memberikan apresiasi tinggi atas hasil karyanya. Harganya juga gak sampe lo musti nabung berbulan-bulan kok.

Beberap waktu kemudian, bedroom recordings vol. 2 alias album kedua yg berjudul Forget Your Plans keluar. Saat tahu Mas Adhit membuka pre order CD-nya saya langsung order, walaupun sebenarnya udah donwload lagunya, tapi kembali lagi memiliki fisiknya lebih oke.
Apalagi ketika tahu albumnya nggak seminimalis Quite Down, lebih keren! :)

Lagu-lagu pada album kedua terdengar lebih gloomy dari sebelumnya. Bandaged, Immortal Mellow cocok buat pemuda-pemudi yang galau akibat digantung statusnya, ditinggal kekasih dan cintanya yang tak terbalas hehe.. dengerin deh..

Nah! Setelah sekian lama hanya memberikan surprised song.. akhirnya 2 Oktober lalu, Mas Adhit memberikan kita lanjutan dari nada-nada merdu nan sendu dari kamarnya lewat How To Stop Time, album ketiganya. Dan sambil menulis postingan ini, gw memutar lagu-lagu terbarunya.
Tetap dengan alunan gitar dan liriknya yang sendu dan seringkali manis. Tapi untuk kali ini gw nggak suka sama covernya heheh.. maaf Mas Adhit :P

Sabtu, 11 Agustus 2012

My (Not)translaticsm Trip

Post berikut emang rada basi karena udah terjadi 7 Maret lalu, tapi karena ini trip pertama keluar negri sambil menonton band impian yaitu si Death Cab for Cutie di Singapore, jadi perlulah dibicarakan di sini hehe..

Jadi setelah berakhirnya kegalauan gw, pagi hari pada tanggal 7 Maret gw pergi ke Singapore dengan si Uthie dan sempat satu pesawat hingga satu MRT dengan Arian 13 yang ternyata menonton Kvelertak (gak penting). 

Oke pertama kali menginjakkan kaki di negri singa itu, rada norak karena beda sama Jakarta (yaiyalah) semua tertata rapi dan nyaman. Pas naik MRT rada gaptek juga karena bingung rutenya banyak banget, tapi dengan berbekal ilmu Dora yang suka nanya dan bawa peta akhirnya kita sampai di hostel kita Berry Nice yang terletak di Smith Street atasnya toko Dimsum di Chinatown!

reccomended place to stay!




Di sana kita disambut dengan Saya (nama penjaganya) yang baik dan ramah. Si Berry Nice ini sodaraan sama Berry Good Hostel yang lebih deket dengan MRT Chinatown dan juga Berry Best Hostel yang masih di daerah Chinatown tapi rada jauh sama MRT which is di jalan Upper Cross Street. Kalo mw reservasi tinggal klik ini.

Nah karena kita musti nunggu jam check in, kita jalan2 dulu disekitar Chinatown. Akhirnya ya gw bisa merasakan roti kaya dengan harga cukup ya mura tapi mahal 1.6 dollar singapore.

Setelah itu kita ke Tin Tin Shop yang berada dekat MRT Chinatown. Rada mahal sih barang-barangnya tapi buat yang suka banget ama tuh detektif musti banget sih beli, ya at least kartu postnya-lah.


Abis check in, kita sempetin jalan2 ke orchard road. Sempat tergoda dengan barang2 branded tapi tujuan kita adalah es krim 1 dollar!.. Nah muter2 gak jelas kita balik lagi ke hostel buat nyiapin energi sebelum umrah nonton mas Ben di Fort Canning.

Sempat tidur dan kerja bentar (yes kerja, kerjaan kantor :|) jam 6 sore kita berangkat dari hostel. Sempat nyasar pas ke Fort Canning dan nunggu temennya Uthie, akhirnya kita sampe di venue. Sampai sana antrian masuknya udah panjaaaaaang bgt karena security checknya cukup ribet. Karena waktu yang cukup molor dan Death Cab udah gak sabar buat menghibur kita semua, no more security check! wohoooo.. kamera lumix gw alhamdulilah ga disita!

Pas masuk liat booth merchandise, karena DCFC udah mulai mainin intro A Lack of Color.. jadilah tanpa banyak cing cong gw ama uthie beli kaos yg cukup mahal ( 50 $ sing bok!)

Ternyata venuenya kurang asik.. bukan tempat Laneway yang tanahnya turun ke bawah, tapi yang tanahnya rata :|
Jadilah gw yg kecil ini rada susah liat ke panggung. Tapi setelah nyelip-nyelip, akhirnya kita sampe ke depan agak di samping kanan stage. Lumayanlah..

Seperti yang sudah diprediksi.. setlist mereka yang di Singapur mirip2 sama yg di Australi..



Karena mereka banyak bawaiin lagu2 lama, sing a long tak dapat dibendung lagi. Hampir ditiap lagu, semua penonton nyanyi bareng sama Ben Gibbard. Apalagi pas lagu I Will Follow You Into The Dark, Ben and his accoustic guitarnya sudah cukup membuai kita.. *jadi inget yang di jakarta* hahaha





Setelah lagu-lagu galau, suasana ceria kembali lewat lagu Soul Meets Body hingga akhir Marching Bands of Manhattan. Dan setelah itu mereka hilang dari stage..

We were ready for the encore.. but not for a goodbye..

Soundtrack Twilight, Meet Me on the Equinox membuka nomer encore malam itu.. dan diakhir lagu paling galau yang pernah ada..
Translaticsm.. pasangan yang nonton di depan gw.. mulai pegangan tangan dan menyanyi bersama.. *makin inget yang di jakarta*..

Thank you words berkumandang dari para personil DCFC, tandanya show berakhir.. :(



Walaupun rasanya cepet banget, but it was great to watch them LIVE!
Semoga mereka bisa main di Indonesia dan bilang "Thank you jekardaaaah, it was the best crowd ever!"

Esok harinya.. si Saya nanya nonton konser apa kemarin? pas bilang kita bilang Death Cab, doi kaget karena dia juga suka DCFC tapi gak tau kalo di mau konser di SG.. Poor her :(

Kemudian hari terakhir di SG dihabiskan dengan jalan2 dari Orchard-Bugis-Mustafa dan cabs ke Changi! Walaupun diakhir perjalanan kita nyasar dan hampir ketinggalan pesawat! Untungnya Air Asianya delay! Tenryata pesawat delay terkadang membawa keberuntungan bagi kita semua! haha...

 



Selasa, 29 Mei 2012

Di Sore Itu Menuju Senja*

Ingat dengan lagu milik Sore berjudul Setengah Lima dari album Ports of Lima?



Suara Bisikan Hanyut
Dalam pengikis bunga layu
Sampai aku akhirnya merasakan

Mati suri ditamaaaaaan..

Sekarang bayangkan jika pada sore itu ada seseorang di taman yang sama dan menyaksikan mati suri tersebut. Jika Ia hanya sekedar orang lewat saja, maka tidak akan bermakna apa-apa. Namun jika Ia adalah musisi nan puitis, maka akan berbuah manis.
Menuju Senja, sebuah lagu dari band asal Depok, Payung Teduh merupakan hasil dari buah manis itu.

Baru saja kuberanjak beberapa saat sebelum itu
Ada yang mati menunggu sore menuju senda
bersama harum mawar di taman
Menusuk hingga ke dalam sukma
Yang menjadi tumpuan ridu cinta bersama
Di Sore itu menuju senja

Lirik romantis tersebut dibalut dengan musik petikan gitar Is, guitalele dari Ivan, betotan ontra bass Comi, gebukan lembut drum Cito yang beraroma keroncong dan agak sedikit jazz. Menarik bukan? dan semuanya juga hadir di semua track dalam album baru band yang terbentuk di tahun 2007 ini.

Lagu tersebut menjadi single pertama dari album kedua mereka yang berjudul Dunia Batas. Ada 8 lagu di album yang dilaunching 1 April 2012 lalu.  Namun, dari 8 lagu tersebut ada 4 lagu yang sudah familiar ditelinga penggemar Payung Teduh, yaitu Berdua Saja, Perempuan Yang Sedang Dipelukan, Angin Pujaan Hujan dan Resah, karena lagu-lagu tersebut sudah hadir di album pertama mereka, Payung Teduh.
Namun, lagu baru lainnya juga tidak kalah memberikan eargasm, lagu Rahasia, Di Ujung Malam dan Biarkan, bisa menjadi sountrack baru para pemuja sore yang menunggu malam tiba. Lirik puitis selalu menjadi senjata ampuh mereka menarik pendengar baru. Dan hal tersebut juga masih menjadi benang merah dari  karya-karya mereka.

Dengan menggandeng salah satu pentolan band favorit mereka, yaitu Raymondo Gascaro dari Sore, Dunia Batas makin menjadi sebuah album dengan komposisi sempurna untuk menjadi sebuah teman yang meneduhkan hati.


*karena ini buat ngelamar kerjaan, jadi bahasanya baku hehehe

Kamis, 23 Februari 2012

Berakit Rakit Kita Ke Hulu, Minum Coca Cola Kemudian

Post berikut diperuntunkan untuk Adele dan Foo Fighters yang berhasil memborong Grammy Awards ke-54 kemarin! Eniwei, cuma mau bilang musik Amerika  (Grammy kan yang buat industri musik Amrik) dibantai sama satu cewek Inggris berumur 23 tahun! Hahaha.. :P

Congrats lah ya buat kalian, Adele dan Foo Fighters! You deserved it guys! Best albums in 2011! Adele dengan album 21-nya berhasil membuat populasi dunia terutama para remaja memiliki sountrack galau masal. Only Someone Like You lah ya Del! Eh Adele udah move on lho, jadi para fansnya diharapkan bisa move on juga ya, maybe it means no more Awards album for Adele.. hahaha..

Foo Fighters juga gak kalah keren lah, dengan mengandeng Butch Vig yang udah kerjasa sama ama Dave Grohl di Nirvana jaman Nevermind, Wasting Light sangat rock abis!. Kerennya, album tersebut direkam digarasinya Om Dave dengan pita analog sodara2! Tapi lagu2nya keren & wokeh2 semua! Favorit gw adalah These Days dan Back and Forth. Setelah dipindahin ke digital, pita analognya digunting2 dan dibagiin ke fansnya via album yang dijualnya lho! Asoy kan! Makin tua makin dicinta deh mereka.. hehe

Ada pantun nih buat mereka, Berakit-rakit ke hulu, borong Grammy kemudian.

Adele rela mengeksploitasi sakit hatinya ke dalam lagu. Dinyanyikan berulang-ulang demi musikalitas. Coba bayangin, gimana sakitnya si Adele tiap nyanyiin lagu khusus untuk mantan pacarnya itu? But it's worth it after all, everybody loves her music.

Lalu, Foo Fighters berani mengambil resiko meninggalkan dominasi digital dengan memilih analog. Dan mereka yakin, apa yang mereka buat di album tersebut akan epic!
Dan pada akhirnya semua berbuah manis, karena musik yang bagus akan berbicara.

Sekian dan selamat malam.

Berakhir Sudah Kegalauan

Yak! Setelah dilanda galau berkepanjangan dari akhir 2011 sampai minggu lalu karena bingung akan nonton Death Cab for Cutie di Singapore atau engga, akhirnya berakhir sudah!..

Gw dan teman kantor gw Uthie, akan umroh ke Fort Gate, Fort Canning Park tanggal 7 Maret Singapura dengan menumpang pesawat Air Asia yang dibeli dengan harga promo! hahah..

Sempat berganti-ganti partner nonton yang dikarenakan beberapa oknum tidak bisa hadir karena lain hal, salah satunya adalah godaan menonton dewa mereka yang lebih besar, Foo Fighters, akhirnya gw dan Uthie (yang sempat dibujuk berjuta kali agar nonton juga) akhirnya akan bergalau ria bersama Ben Gibbard.
Wohoooo!
Godaan konser di dalam negeri sempat menggoda iman untuk ditonton, macem Feist & Foster The People akhirnya bisa gw taklukan demi untuk menabung nonton band idola gw ini.

Agak kesel juga sih awalnya, karena GAK ADA satu promotor Indonesia pun yang mau borong doi kemari!! Padahal kan dia main ke Australia, Filipina dan Singapore yang super deket ama negara kita!! Heran deh!
Pasti laku kok kalau kalian bawa kemari, band-band hipster baru bekas Laneway aja lo pada bawa kemari, masa Death Cab yang udah punya banyak album gak ada yang mau bawa kemari? *esmosi*

Yaudahlah ya.. mari kita ke negri singa untuk menonton mereka!..
Sempet ngintip setlist mereka pas di Australi kemaren, ternyata set listnya galau! Maklum kali ya, si Mas Ben baru cerai. Album barunya Codes and Keys yang kebanyakan ceria, seceria lagu Stay Young, And Dancing tidak banyak dibawakan, cuma 3-4 lagu aja dari album tersebut. Siap-siap galau deh nih kite!
Dan mungkin akan menjadi konser pertama saya di umur 23 tahun.. hehe 


Sampai bertemu di part berikutnya dengan cerita yang semoga indah.. :)

Selasa, 31 Januari 2012

So.. i'm in love with this guy..

I'M IN LOVE WITH SUFJAN STEVENS!!

His music i mean.. and his face also.. haha.. (tampan euy!)
mungkin rada telat juga ya kenal musik folksnya dia yang super syahdu itu, tapi ya tiada kata terlambat untuk menyukai musik yg bagus bukan? :)

ganteng kan masnya..


Jadi, awalnya bermula di 8tracks.com ketika dimana setiap mixtape yang gw play hampir selalu ada lagunya. Udah gitu namanya kan rada unik, bernafaskan Islam gitu kan nama Sufjan. Lalu, di library iTunes salah satu anak kantor ada satu albumnya doski yang Greetings from Michigan The Great Lake State WOW! makin naksir ijk!! a lot of symphonical folky going on in his music!! indah dan manis deh!

Recently i googled him around, ternyata doski tuh punya 50 states project, which is dia bakal buat album berdasarkan negara2 bagian di Amrik! Project awalnya dia bermulai dari album si album Michigan tadi, trus lanjutannya ada Come On Feel The Illinoise dan udah ada sekilas tentang New York di album The BQE yang terinspirasi oleh Brooklyn-Queens Express dan isinya orchestra cantik kaya di film2 Disney jaman dulu.

Tapi ya setelah ditelaah lebih lanjut, liriknya tuh gak seindah musiknya. Bukan lirik patah hati atau jatuh cinta yang kebanyakan dia jual, tapi a lot of social stuff, labour kind that thing, yah bener2 sesuai dengan keadaan negara bagian yang lagi dia tulis. Bisa kita liat contohnya di lagu tentang Detroit



musiknya super manis dan keren kan? tapi liriknya?

Henry Ford. Henry Ford.
Public Trans. Public Trans.
Pontiac. Pontiac.
Feed the poor. Feed the poor.
City Hall. City Hall.
Windsor Park. Windsor Park.
Saginaw. Saginaw.
After dark. After dark.
Tigers game. Tigers game.
Eighty-four. Eighty-four.
Industry. Industry.
Unemployed. Unemployed.
Gun control. Gun control.
Wolverine. Wolverine.
Iroquois. Iroquois.
Industry. Industry.
Public Trans. Public Trans.
Auto Cars. Auto Cars.
Jefferson. Jefferson.
Michigan. Michigan. 


Lagu Say! to M!ch!gan! ini musiknya lebih indah, listen up:

 

f I ever meant to go away
I was raised, I was reaised
In the place, in the place.
Still I often think of going back
To the farms, to the farms
Golden arms, golden arms
start to remind me. 


Dan menurut gw yang paling absurd tuh albumnya yang Illinois, judul-judulnya lagunya lebih mirip cerita science fiction! I mean.. what do you expect with a song titled called Concerning UFO Sighting Near Highland, Illonoise  or track number 2 called,  The Black Hawk War, or, How to Demolish an Entire Civilization and Still Feel Good About Yourself in the Morning, or, We Apologize for the Inconvenience but You're Going to Have to Leave Now, or, 'I Have Fought the Big Knives and Will Continue to Fight Them Until They Are Off Our Lands​!​' YEP ITU JUDUL SATU LAGU! Emang instrumental doang sih





Tapi lagu yang cukup indah untuk didengarkan adalah Chicago, lagu romantis tentang sebuah windy city called Chicago


 


His latest album called The Age of Adz, rilis di tahun 2010 dan udah mulai banyak unsur elektronik di dalamnya, which is i don't really like. haha.. But you know, he's such a genius person in music industry! i love his artworks so fuckin much! looking forward to watch his gigs here in indonesia!